Sabtu, 06 Juli 2024

Tatalaksana dan Pencegahan Hepatitis B dalam Kehamilan

DEFINISI
        Hepatitis B adalah peradangan hepar disebabkan virus hepatitis B. Hepatitis akut apabila inflamasi hepar akibat infeksi virus hepatitis setelah masa inkubasi virus 30- 180 hari atau 8 – 12 minggu; disebut hepatitis kronik apabila telah lebih dari 6 bulan.




ETIOLOGI
        Virus hepatitis B adalah virus DNA sirkuler berantai ganda Family Hepadnaviridae, mempunyai 3 jenis antigen, yaitu antigen surface hepatitis B (HBsAg) yang terdapat pada mantel (envelope virus), antigen core hepatitis B (HbcAg) terdapat pada inti dan antigen “e” hepatitis B (HBeAg) terdapat pada nukleokapsid virus. Ketiga jenis antigen ini menimbulkan respons antibodi spesifik terhadap antigen – antigen disebut anti-HBs, anti-HBe, dan anti-HBc.


Manifestasi Klinis
        Gejala klinis hepatitis B akut seperti mual, muntah, nyeri kepala, dan malaise diikuti jaundice muncul setelah 1–2 minggu. Saat timbul ikterus, umumnya gejala klinis membaik. Pada hepatitis B akut, 90% mengalami resolusi dan 10% menjadi hepatitis B kronik.
        Hepatitis B kronik umumnya asimptomatik, gejala klinis yang mungkin timbul adalah anoreksia menetap, penurunan berat badan, fatigue, hepatosplenomegali, artritis, vaskulitis, glomerulonefritis, miokarditis, mielitis transversa, dan neuropatiperifer.


Pemeriksaan 
        Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan antara lain pemeriksaan serologi. Setelah terinfeksi, marker pertama yang terbentuk adalah HBsAg. HBsAg sudah ditemukan dalam darah pada masa inkubasi 30 – 180 hari, titer antigen tertinggi dicapai saat timbul gejala klinis disertai peningkatan ALT. Resolusi hepatitis ditandai dengan HBsAg tidak terdeteksi dan terbentuknya anti-HBs dalam 3–4 bulan. Anti-HBs menunjukkan imunitas terhadap infeksi HBV. Anti-HBs juga dapat terdeteksi 4–6 bulan setelah mendapat HBIG. HBsAg yang menetap selama 6 bulan atau lebih menunjukkan adanya infeksi hepatitis B kronik. HBsAg negatif dengan HBV DNA yang terdeteksi menandakan infeksi tersembunyi. HBsAg positif dapat bersifat sementara, yaitu 18 hari setelah vaksinasi dan 52 hari pada pasien hemodialisis. Anti-Hbc (IgM dan IgG) terdeteksi 1–2 minggu setelah HBsAg positif, IgM anti-Hbc umumnya tidak terdeteksi setelah 6 bulan, dan IgG anti-Hbc menetap jangka panjang atau seumur hidup. HbeAg menandakan virus aktif bereplikasi dan berkorelasi dengan tingginya HBV DNA. Anti-Hbe menandakan virus tidak bereplikasi, HbeAg dapat positif kembali, apabila virus kembali aktif. Anti-Hbc positif menandakan infeksi sebelumnya atau sedang terinfeksi akut.
        
        Saat pemeriksaan akan didapatkan: serum bilirubin umumnya meningkat 40–4000 U/L saat ikterus, ALT meningkat, prothrombin time memanjang, serum albumin menurun, hipoglikemia, gejala mual muntah, dan gangguan sistem saraf pusat, dalam hal ini pasien wajib dirawat inap.9 Pada hepatitis B kronik asimptomatik dapat dilakukan pemeriksaan biopsi hepar untuk deteksi inflamasi akut, nekrosis, dan fibrosis yang mungkin berlanjut menjadi sirosis.


PENGARUH INFEKSI HEPATITIS B DALAM KEHAMILAN
        Sirosis hepatis dapat menyebabkan infertilitas karena disfungsi hipotalamus dan hipofisis. Tanpa immunoprophylaxis, 40% bayi yang lahir dari ibu terinfeksi VHB di Amerika Serikat menjadi infeksi VHB kronik, dan 1 dari 4 bayi tersebut meninggal akibat penyakit hepar kronik. Risiko pada ibu hamil adalah ruptur varises esofagus dan menyebabkan perdarahan (20–25%), khususnya pada trimester kedua, jaundice dan ruptur aneurisma limpa. Pasien sirosis memiliki risiko dekompensasi VHB saat perinatal. Berdasarkan studi retrospektif pada 400 ibu dengan sirosis VHB, dijumpai 15% serangan berat saat hamil, 1,8% kematian maternal, dan 5,2% kematian fetus. Mengingat prognosis jangka panjang yang buruk, pada ibu hamil dengan hepatitis B kronik disarankan menjalani transplantasi hepar, aborsi, dan sterilisasi.
        
        Kehamilan tidak langsung berpengaruh terhadap VHB. Perubahan viral load dan enzim hati disebabkan perubahan sistem imun, yaitu: perubahan keseimbangan Th1 dan Th2, serta menurunkan respons imun terhadap infeksi hepatitis B. Tujuan perubahan adalah mencegah penolakan fetus terhadap sistem imun tubuh ibu. Hal ini menyebabkan peningkatan DNA VHB dan penurunan ALT. Setelah melahirkan, sistem imun akan kembali dan menyebabkan peningkatan ALT dan penurunan DNA VHB.


TRANSMISI
     Risiko menjadi hepatitis B kronik berhubungan erat dengan faktor usia pertama terinfeksi; bervariasi: 90% pada bayi, 50% pada balita, dan 10% pada dewasa immunocompromised HIV, kemoterapi, dan resipien transplan.9 Risiko MTCT (mother to child transmission) berhubungan dengan HBeAg ibu; 70–90% transmisi pada HBeAg ibu positif, 10–40% pada HBeAg ibu negatif. Transmisi lebih tinggi pada ibu dengan HBeAg positif daripada HBsAg positif, karena HBeAg dapat melewati plasenta dan menginduksi toleransi T-sel di uterus, infeksi VHB intrauterine (mekanismenya belum jelas), menyebabkan immunoprophylaxis tidak berhasil pada 3–13% anak. Tingginya kadar serum DNA VHB pada wanita hamil juga merupakan risiko infeksi intrauterine, karena DNA VHB dan titer HBsAg darah umbilikal berhubungan.
        
        Risiko terinfeksi VHB pada bayi yang dilahirkan dengan operasi Caesar tidak berbeda signifikan dibandingkan persalinan normal. Berdasarkan data Beijing tahun 2007 – 2011, pada 1409 bayi lahir dari ibu HBsAg positif dan mendapat immunoprophylaxis saat lahir, risiko MTCT 1,4% pada Caesar elektif, 3,4% pada persalinan per vaginam, dan 4,2% pada urgent caesarean delivery.

        Walaupun virus dijumpai dalam ASI, insidens transmisi tidak berbeda dibandingkan pemberian susu formula. Menyusui harus dihindari apabila puting ibu luka atau berdarah. Ibu terinfeksi VHB bukan kontraindikasi untuk menyusui.


TATALAKSANA
        The American Congress of Obstetrics and Gynecology (ACOG) merekomendasikan skrining VHB pada wanita hamil. Nilai HBsAg dan antibodi harus diperiksa pada pemeriksaan prenatal. Apabila HBsAg dan anti-HBsAg negatif, vaksin VHB dapat diberikan pada pasien risiko tinggi. Jika hasil pemeriksaan HBsAg positif, maka harus dilakukan pemeriksaan VHB DNA kuantitatif pada minggu ke-28. ACOG merekomendasikan untuk merujuk pasien jika titer virus >20.000 IU/mL, ALT > 19 IU/mL, atau HbeAg positif. Apabila DNA VHB lebih dari 1 juta kopi (200.000 IU/mL), terapi antiviral direkomendasikan pada usia kehamilan 28 – 32 minggu. Apabila titer virus <200.000 IU/mL, terapi antiviral dapat diberikan jika memiliki gejala hepatitis B virus aktif dan sirosis.
        
        Pada wanita VHB kronik tidak hamil dan dalam rentang usia subur, tujuan terapi adalah untuk mengetahui tingkat keparahan dan menentukan terapi yang tepat. Pasien VHB kronik yang ingin hamil tidak diterapi antivirus karena risiko gangguan organogenesis. Pasien dengan gejala virus hepatitis B yang signifikan, seperti fibrosis dan sirosis, harus diterapi antivirus untuk mencegah kambuh saat hamil. Interferon-pegylated merupakan terapi utama untuk infeksi VHB kronik. Pasien harus menunggu 18 bulan (12 bulan terapi dan 6 bulan untuk respons terapi) sebelum mencoba hamil.
        
        Tujuan utama terapi antiviral pasien hamil adalah untuk mengurangi risiko transmisi virus secara vertikal. Anti-virus lini pertama yang direkomendasikan adalah yang resistensinya rendah (contoh: tenofovir and entecavir). Antivirus yang aman, namun resistensi tinggi (contoh: lamivudine dan telbivudine), dapat menyebabkan reaksi resisten dengan obat lain. American College of Gastroenterology (ACG) dan AASLD merekomendasikan inisiasi antiviral dengan tenofovir dan entecavir pada pasien indeks viremik tinggi saat usia kehamilan 28–32 minggu. Pada sebuah percobaan prospektif, telbivudin 600 mg/ hari diberikan pada ibu usia kehamilan 20-32 minggu dengan indeks viremik tinggi; terdapat penurunan viral load yang signifikan, berarti tidak terdeteksi transmisi janin; telbivudin dapat digunakan dalam pencegahan MTCT. Durasi pengobatan post partum bervariasi 0 – 3 bulan, bergantung pada: inisiasi awal pengobatan, positif HBsAg, dan menyusui. Penghentian obat perlu memperhatikan risiko kekambuhan akibat efek withdrawal obat antivirus dalam 6 bulan.
        
        Jika persalinan lebih dari 14 jam pada ibu hamil dengan titer HBV tinggi (3,5 pg /mL) atau HBeAg positif, lebih baik dilakukan SC. Persalinan normal diusahakan dengan trauma sekecil mungkin dan rawat bersama ahli penyakit dalam. Pada pasien dengan titer DNA VHB <1 juta kopi/mL, persalinan normal tidak berisiko secara signifikan untuk transmisi kepada anak. Persalinan SC direkomendasikan pada pasien dengan DNA VHB > 1 juta kopi/ mL; tidak dijumpai perbedaan signifikan pada luaran bayi yang dilahirkan secara SC dan persalinan per vaginam. Studi metaanalisis menunjukkan risiko berkurang sebesar 17,5% pada SC dibandingkan dengan hanya pemberian immunoprophylaxis. 


PENCEGAHAN
        Semua wanita hamil wajib diperiksa HBsAg saat pemeriksaan setiap kehamilan trimester pertama, walaupun pernah mendapat vaksinasi untuk mendapat informasi status HBsAg ibu dan menentukan saat profilaksis untuk bayi. Semua wanita hamil dengan HBsAg positif wajib diperiksa nilai DNA VHB, untuk menentukan terapi antiviral. Wanita hamil dengan faktor risiko infeksi VHB (memiliki pasangan seksual lebih dari satu dalam 6 bulan terakhir, infeksi saluran kemih, menggunakan narkotika injeksi) wajib divaksinasi.

        Pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi berdasarkan status HBsAg ibu saat melahirkan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif mendapat 0,5 mL HBIg dan 5 mcg (0,5 mL) vaksin rekombinan di ekstremitas bawah yang berbeda 12 jam setelah lahir. Pada bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2000 g, dosis vaksin pertama tidak dianggap sebagai bagian dari paket vaksin karena potensi immunogenicity hepatitis B rendah, sehingga dosis vaksin total 4 dosis. Setelah vaksinasi selesai, dilakukan pemeriksaan anti-Hbs dan HBsAg pada usia 9 – 12 bulan untuk menilai konsentrasi anti-Hbs. Pemeriksaan tidak boleh sebelum usia 9 bulan untuk mencegah deteksi pasif anti-Hbs dari HBIG yang diberikan saat lahir dan untuk memaksimalkan deteksi infeksi HBV. Pemeriksaan anti-Hbc tidak direkomendasikan, karena anti-Hbc didapat secara pasif dari ibu HBsAg positif, sampai usia 24 bulan.

        Bayi yang lahir dari ibu yang tidak diketahui status HBsAg nya, namun terdapat tanda infeksi (terdeteksi VHB DNA, HbeAg positif, atau diketahui terinfeksi kronik VHB), harus ditangani seperti jika lahir dari ibu HBsAg positif. Ibu yang mau melahirkan dan tidak diketahui status HBsAgnya, harus segera dilakukan pemeriksaan darah.

        Bayi yang lahir dari ibu yang tidak diketahui status HBsAgnya dengan BBL ≥ 2000 gram diberi vaksin hepatitis B (tanpa HBIG), yaitu: 5 mcg (0,5 mL) vaksin rekombinan atau 10 mcg (0,5 mL) vaksin asal plasma dalam 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada umur 1-2 bulan dan dosis ketiga pada umur 6 bulan. Jika kemudian diketahui ibu mengidap HBsAg positif segera berikan 0,5 mL HBIG (sebelum anak berusia satu minggu). Pada bayi dengan BBL <2000 gram dan tidak diketahui status HBsAg ibu dalam 12 jam setelah lahir, bayi diberi vaksin hepatitis B dan HBIG.

        Bayi HBsAg negatif dengan anti-Hbs ≥ 10 mIU/mL, terproteksi dan tidak perlu pengobatan lebih lanjut. Bayi dengan antiHbs < 10 mIU/mL harus divaksinasi ulang Hepatitis B single dose dan diperiksa serologi 1–2 bulan kemudian. Bayi yang anti-Hbsnya tetap rendah setelah revaksinasi wajib divaksinasi dengan penambahan 2 dosis, dan pemeriksaan serologi 1–2 bulan kemudian. Bayi HBsAg positif sebaiknya dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.

        Bayi lahir dari ibu HBsAg negatif diberi dosis minimal 2,5 mcg (0,25 mL) vaksin rekombinan, sedangkan jika digunakan vaksin berasal dari plasma, dosis 10 mcg (0,5 mL) intramuskular saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan pada umur 1-4 bulan, dosis ketiga pada umur 6-18 bulan. Ulangan imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 10-12 tahun.

Video Penjelasan




Referensi
https://cdkjournal.com/index.php/CDK/article/view/379
https://www.youtube.com/watch?v=wNy5IljC_nc
Gozali, A., P. (2020). Tatalaksana dan Pencegahan Hepatitis B dalam Kehamilan. Cermin Dunia Kedokteran, Volume 47, Nomor 5, 355-358.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hepatitis E

Definisi      Hepatitis E adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV), yang merupakan jenis virus RNA. Infeksi HEV ada...